Kamis, 28 September 2017

GAYA BELAJAR TIPE VISUAL, AUDITORI DAN KINESTETIK



          

 Pengertian  Gaya Belajar
Gaya belajar dapat diartikan sebagai cara seseorang dalam menerima hasil belajar dengan tingkat penerimaan yang optimal dibandingkan dengan cara yang lain.

Jenis atau Macam-macam Gaya Belajar
1. Gaya Belajar Visual
        Seseorang yang memiliki gaya belajar visual cenderung belajar melalui hubungan visual (penglihatan). Oleh karena itu dalam gaya belajar visual yang sifatnya eksternal, ia menggunakan materi atau media yang bisa dilihat atau mengeluarkan tanggapan indera penglihatan. Materi atau media yang bisa digunakan adalah buku, poster, majalah, rangka tubuh manusia, peta, dan lain-lain. Sedangkan gaya belajar visual yang bersifat internal adalah menggunakan imajinasi sebagai sumber informasi.

Berikut Ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar tipe visual :
a. Mengingat apa yang dilihat ,dari pada yang didengar
b. Suka mencatat-catat sesuatu/mencoret-coret sesuatu
c. Pembaca cepat dan tekun
d. Lebih suka membaca daripada dibacakan
e. Rapid an teratur
f. Mementingkan penampilan
g. Teliti terhadap detail
h. Pengeja yang baik
i. Lebih memahami gambar dan bagan dari pada instruksi tertulis

2. Gaya Belajar Auditori
      Orang yang memiliki Gaya belajar ini cenderung menggunakan pendengaran/ audio sebagai sarana mencapai keberhasilan dalam belajar. Gaya belajar auditori yang bersifat eksternal adalah dengan mengeluarkan suara atau ada suara. Mereka dapat membaca keras, mendengarkan rekaman kuliah, diskusi dengan teman, mendengarkan musik, kerja kelompok, dan lain-lain. Gaya auditori yang bersifat internal adalah memerlukan suasana yang tenang-hening sebelum mempelajari sesuatu. Setelah itu diperlukan perenungan beberapa saat terhadap materi apa saja yang telah dikuasai dan yang belum.

Ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar tipe auditori :
a. Lebih cepat menyerap dengan mendengarkan
b. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
c. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada
d. Bagus dalam berbicara
e. Berbicara dengan irama yang berpola
f. Belajar dengan mendengarkan dan mengingatkan apa yang didiskusikan daripada  
    dilihat
g. Suka berbicara, suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu yang panjang lebar dan banyak argumen
h. Suka musik dan bernyanyi
i. Tidak bisa diam dalam waktu yang lama
j. Suka mengerjakan tugas kelompok

3. Gaya Belajar Kinestetik
        Orang yang memiliki gaya belajar kinestetik belajar melalui gerakan-gerakan sebagai sarana memasukkan informasi ke dalam otaknya. Penyentuhan dengan bidang objek sangat disukai karena mereka dapat mengalami sesuatu dengan sendiri. Gaya belajar jenis ini yang bersifat eksternal adalah melibatkan kegiatan fisik,membuat model, memainkan peran, berjalan, dan sebagainya. Sedangkan gaya belajar kinestetika yang bersifat internal menekankan pada kejelasan makna dan tujuan sebelum mempelajari sesuatu hal.

Ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar kinestetik :
a. Selalu berorientasi fisik dan banyak bergerak
b. Berbicara dengan perlahan
c. Menanggapi perhatian fisik
d. Suka menggunakan berbagai peralatan dan media
e. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian
f. Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
g. Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar
h. Belajar melalui praktek langsung
i. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
j. Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
k. Banyak menggunakan isyarat tubuh
l. Tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama
m. Menyukai buku-buku berorientasi pada cerita
n. Ingin melakukan segala sesuatu (atau aktif untuk bergerak)
o. Menyukai permainan dan olahraga

Kesimpulan:
1.      Gaya belajar adalah cara seseorang menerima proses pembelajaran dengan tingkat penerimaan yang optimal dibandingkan dengan cara yang lain.
2.      Ada 3 tipe gaya belajar yakni tipe visual, tipe auditori, dan kinestetik
3.      Pada masing-masing tipe gaya belajar memiliki ciri khas dan kelebihan serta kelemahan yang harus sama-sama diberikan keseimbangan diantara ketiganya.


TEORI DUAL CODING

1.      Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran  matematika
 

           Pada dasarnya Teori dual coding yang dikemukakan Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
 
           Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen (lihat Gambar).

         Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.

           Menurut teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.

             Oleh karena itu kesimpulan dari teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.

Referensi
Beacham, N.A., Elliott, A.C, Alty, J.L., Al-Sharrah, A. Media Combinations and Learning Styles: A Dual Coding Approach. Association for the Advancement of Computing in Education (AACE), 2002.
Dede, Chris. \\\\\\\"Using Multiple Interactive Media to Enable Effective Teaching & Learning\\\\\\\". FETConnections, 2000. (http://www.fetc.org/fetcon/2000-February/multiple.html)
Hogue, Mike. \\\\\\\"Media Selection\\\\\\\".   (http://www.umdnj.edu/meg/legacy/hogue_mediaselection.htm).
Ma, Yue. \\\\\\\"Dual Coding Theory, Cognitive Load theory, and Their Applications in Computer Based Multimedia Design\\\\\\\". Northern Illinois University, (?) (http://cedu.niu.edu/.../642_materials/642_lit_review/ETT642_Ma_Literature.pdf)
Najjar, L.J. \\\\\\\"A Review of the Fundamental Effects of Multimedia Information Presentation on Learning\\\\\\\". Atlanta: School of Psychology and Graphic, Visualization, and Usability Laboratory, Georgia Institute of Technoloy, Atlanta. 1995. (http://www.cc.gatech.edu/gvu/reports/TechReports95.html)
Paivio, Allan. Imagery and Verbal Processes. New York: Holt, Rinehart & Winston, 1971.
Paivio, Allan. \\\\\\\"Dual Coding Theory and Education\\\\\\\" (Draft chafter for the Conference on \\\\\\\"Pathways to Literacy Achievement for High Poverty Children\\\\\\\", The University of Michigan School of Education, 2006.
Sadoski, M., Paivio, A., Goetz, E.  Commentary: A Critique of Schema Theory in Reading and Dual Coding Alternative. Reading Research Quarterly, 26(4), 1991.

Rabu, 27 September 2017

TEORI KOGNITIF PADA PEMBELAJARAN MULTIMEDIA


Pembelajaran multimedia adalah teori pembelajaran yang dipopulerkan oleh Richard R. Mayer yang digunakan sebagai representasi mental dari gambar dan kata-kata yang kemudian dikenal sebagai Cognitive Theory of Multimedia Learning (CTML).    
  1. Menurut cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran  Matematika?

        JAWAB :
         CTML memiliki tiga asumsi dasar. Asumsi yang pertama adalah Dual Chanel, manusia memiliki dua cara dalam memproses informasi apa saja yang mereka dapat melalui dua jalur, visual (penglihatan) dan audio (pendengaran). Contohnya yaitu komputer desain program micrososft powerpoint dan radio. Asumsi yang kedua adalah Limited Capacity, manusia memiliki daya tampung yang terbatas terhadap informasi yang masuk pada setiap jalur yang diterima pada waktu yang sama, asumsi ini diadopsi dari Cognitive Load Theory. Contohnya yaitu kemampuan mengingat atau memahami / otak serta on-screen text. Asumsi yang ketiga adalah Active Processing, manusia menggabungkan berbagai macam informasi yang mereka terima baik secara visual maupun audio yang kemudia digabungkan menjadi satu kesatuan yang koheren dan mengintregasikannya dengan pengetahuan yang lain. Contohnya yaitu suara, gambar, dan kata-kata (Meyer, 2003).

   

2. Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran Matematika?     

        JAWAB :
  Dual-Coding adalah model pembelajaran yang dikembangkanberdasarkan prinsip-prinsip  Dual-Coding Theory atau Teori Pengkodean Ganda. Teori pengkodean ganda adalah teori yang berasumsi bahwa manusia memiliki dua sistem pengolahan informasi yang berlainan: satu mewakili informasi verbal dan yang lain mewakili informasi visual Solso, 1998). Lebih lanjut, Paivio (1991, dalam Solso, 1998) menguraikan tentang separated dual-code dan integrated dual-code. Separated dual-code menunjukkan perbedaan yang jelas pada model penerimaan atau penyimpanan informasi dalam memori berdasarkan informasi yang diberikan, dalam hal ini informasi visual dan informasi verbal. Informasi yang diberikan dalam bentuk kata-kata akan diterima dalam bentuk verbal, sedangkan informasi yang diterima dalam bentuk gambar akan diterima atau disimpan dalam bentuk visual. Ada 3 proses yang berlangsung saat seseorang menerima 2 bentuk informasi (verbal dan visual), dalam waktu yang sama, yaitu: 1) membuat gambaran verbal serta kesesuaian dengan informasi verbal yang diterima; 2) membuat gambaran visual serta kesesuaian dengan informasi visual yang diterima; dan 3) membuat kesesuaian hubungan antara gambaran visual dengan gambaran verbal yang sudah diterima.
                   
                               
      DAFTAR PUSTAKA
  repository.uksw.edu/bitstream/123456789/6029/2/T2_942012061_BAB%20II.pdf
 https://faisalfatih.wordpress.com/2014/12/14/teori-kognitif-pembelajaran-multimedia-cognitive-theory-of-multimedia-learning/

MEDIA INTERAKTIF

A. Pengertian  Multimedia  Pembelajaran Multimedia  adalah  media  yang  menggabungkan  dua  unsur  atau  lebih  media  yang  terdiri  d...