1. Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat
diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran matematika
Pada dasarnya Teori dual coding yang dikemukakan
Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa informasi yang
diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini
dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga
secara terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima
rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun
rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal,
representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung,
dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang
sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen (lihat Gambar).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan
Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media
yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham,
2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi yang
disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang
relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami
daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan
teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Menurut teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan
informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian,
Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah
melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan
melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan
kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap
dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan
antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar
melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang
belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi,
kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih
tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan
belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua
kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Oleh karena itu kesimpulan dari teori dual coding ini
jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi
baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang
menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang
baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang
lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih
pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang
memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru
yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan
belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan
perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar,
1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa
ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa
media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal)
dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang
berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh
pembelajar.
Referensi
Beacham, N.A., Elliott, A.C, Alty, J.L., Al-Sharrah, A. Media Combinations and Learning Styles: A Dual Coding Approach. Association for the Advancement of Computing in Education (AACE), 2002.
Dede, Chris. \\\\\\\"Using Multiple Interactive Media to Enable Effective Teaching & Learning\\\\\\\". FETConnections, 2000. (http://www.fetc.org/fetcon/2000-February/multiple.html)
Hogue, Mike. \\\\\\\"Media Selection\\\\\\\". (http://www.umdnj.edu/meg/legacy/hogue_mediaselection.htm).
Ma, Yue. \\\\\\\"Dual Coding Theory, Cognitive Load theory, and Their
Applications in Computer Based Multimedia Design\\\\\\\". Northern
Illinois University, (?) (http://cedu.niu.edu/.../642_materials/642_lit_review/ETT642_Ma_Literature.pdf)
Najjar, L.J. \\\\\\\"A Review of the Fundamental Effects of
Multimedia Information Presentation on Learning\\\\\\\". Atlanta: School
of Psychology and Graphic, Visualization, and Usability Laboratory,
Georgia Institute of Technoloy, Atlanta. 1995.
(http://www.cc.gatech.edu/gvu/reports/TechReports95.html)
Paivio, Allan. Imagery and Verbal Processes. New York: Holt, Rinehart & Winston, 1971.
Paivio, Allan. \\\\\\\"Dual Coding Theory and Education\\\\\\\"
(Draft chafter for the Conference on \\\\\\\"Pathways to Literacy
Achievement for High Poverty Children\\\\\\\", The University of
Michigan School of Education, 2006.
Sadoski, M., Paivio, A., Goetz, E. Commentary: A Critique of Schema Theory in Reading and Dual Coding Alternative. Reading Research Quarterly, 26(4), 1991.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar